Biksu Ultranasionalis Tutup Paksa Dua Sekolah Muslim di Myanmar

 

Tentara Myanmar berpatroli di kamp pengungsi Muslim Rohingya. (Foto: dok. TRT World)

YANGON – Di tengah meningkatnya diskriminasi terhadap Muslim di Myanmar, para biksu Buddha ultranasionalis menutup paksa dua sekolah Muslim di Yangon, kota terbesar di Myanmar.

Belasan biksu dan sejumlah pendukungnya berkumpul pada Jumat (28/4) di dekat dua madrasah Muslim sementara polisi berdiri saat para pemrotes menuntut agar pejabat setempat menutup bangunan tersebut.

Pertemuan tiga jam berakhir saat para pejabat sepakat mengizinkan mereka untuk merantai pintu masuk kedua bangunan tersebut, yang menurut para demonstran dibangun secara ilegal.

Minoritas etnis Rohingya Muslim diperlakukan secara diskriminasi sejak puluhan tahun di negara itu, pemberontakan terhadap minoritas Buddha kadang menjadi satu-satunya pilihan mereka bertahan. Kaum Rohingya dituduh memasuki negara tersebut secara ilegal dari Bangladesh. Sementara Bangladesh berpikir sebaliknya.

Tampaknya madrasah ditutup untuk menenangkan para pemrotes dan meredakan ketegangan, tapi tidak jelas nasib kaum Rohingya mendatang, Japan Times melaporkan.

“Apa yang terjadi hari ini sangat, menyedihkan bagi saya,” kata Tin Shwe, seorang pemimpin komunitas Muslim. “Saya merasa mereka merusak (membully) agama kami. Sekolah ini telah dibangun bertahun-tahun yang lalu dan semua generasi kami menjaganya. “

Sebuah organisasi militan biksu Buddha yang dikenal dengan Ma Ba Tha telah melakukan berbagai upaya menentang umat Islam di negara itu. Pemimpinnya disebut memprovokasi kekerasan massa yang menyebabkan kematian Muslim dan properti mereka di Myanmar. Gerakan mereka yang anti Islam mendapat dukungan dari kaum nasionalis yang memiliki kekuatan politik.

Banyak kelompok anti Muslim yang menuntut penutupan lembaga-lembaga Muslim di luar Yangon. Mereka, seperti makar terencana, menuntut para pejabat lokal untuk menyebut lembaga Islam sebagai ilegal dan menutupnya.

Lebih dari 100.000 Muslim Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsian kumuh di mana mereka tidak diterima di sana sini. Pemerintah masih menolak memberikan kewarganegaraan kepada sebagian besar dari sekitar 1 juta orang Rohingya walaupun, dalam banyak kasus, mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.

Sumber: mirajnews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s