Seputar Bulan Sya’Ban (1)

SEPUTAR BULAN SYA’BĀN BAGIAN 01 DARI 07

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Saya berdo’a dengan nama-nama Allāh yang husna dan sifat-sifat yang mulia.

اَللَّهُمَّ إِنِّنا أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا , وَ رِزْقًا طَيَّبًا , وَ عَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Wahai Allāh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik dan amal yang diterima, Allāhumma Aamiin.”

Para shahābat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Saya akan membicarakan tentang bulan Sya’bān, saya beri judul “Seputar bulan Sya’bān”.

Para shahābat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Poin yang pertama yang berkenaan dengan bulan Sya’bān adalah keutamaan bulan Sya’bān.

Keutamaan bulan Sya’bān

1. Hadīts Pertama

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām An Nasā’i dan dishahīhkan atau dihasankan oleh Imām Al bāniy rahimahullāh Ta’āla:

قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari ‘Usāmah Ibnu Zaid Radhiyallāhu ‘anhu bercerita, Aku berkata:

“Wahai Rasūlullāh, aku belum pernah melihat engkau berpuasa dalam sebulan dari bulan-bulan yang ada lebih banyak dibandingkan berpuasa di bulan Sya’bān.”

Kemudian, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab pertanyaan ini, beliau mengatakan:

“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai terhadap bulan tersebut (bulan Sya’bān adalah sebuah bulan yang orang-orang kebanyakan lalai terhadap bulan tersebut). Terletak antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhān dan dia adalah bulan didalamnya diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta. Maka aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa..”

(Hadīts Riwayat An Nasāi’ nomor 2317)

Dari hadīts ini, kita ambil pelajaran keutamaan bulan Sya’bān adalah amalan-amalan perbuatan manusia (amal ibadah atau amal buruk) diangkat dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan inilah keutamaan bulan Sya’bān.

Ada perbedaan pendapat atau ada sebuah permasalahan yang terjadi diantara para ulamā dan dibicarakan diantara mereka tentang diangkatnya amalan perbuatan di bulan Sya’bān.

Apa itu?

Yaitu dalam hadīts riwayat Imām Muslim dan yang lainya, bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan,

√ Amal siang diangkat sebelum malam,
√ Amal malam diangkat sebelum siang.

Hadīts ini menunjukan bahwa amalan diangkat pada setiap harinya.

Disana ada hadīts yang lain yang juga diriwayatkan oleh Imām Muslim bahwa ketika beliau ditanya kenapa berpuasa pada hari Senin dan Kamis? Maka beliau juga menjawab bahwa amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis.

Bagaimana menggabungkan tiga riwayat yang shahīh-shahīh ini?

⑴ Ada amal yang diangkat, amal perbuatan siang diangkat sebelum malam, amal perbuatan malam diangkat sebelum siang.

⑵ Dan ada hadīts yang menyatakan bahwa setiap Senin dan Kamis juga diangkat amal perbuatan.

⑶ Ada hadīts lagi yang menyatakan bahwa bulan Sya’bān diangkat amal perbuatan.

Maka jawabannya, disebutkan di dalam kitāb Hasyiyatusindi bahwa tiga riwayat tersebut shahīh dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya, hanya cara memahaminya adalah:

⑴ Setiap hari diangkat amal, yaitu amal perbuatan siang diangkat sebelum malam, amal perbuatan malam diangkat sebelum siang.

⑵ Setiap pekan diangkat amal perbuatan dua kali yaitu amal perbuatan untuk satu pekan diangkat hari Senin dan Kamis.

⑶ Setiap tahun, amal perbuatan diangkat pada bulan Sya’bān.

Ini menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar diangkatnya amal perbuatan. Karena tiga hadīts tersebut shahīh dan semua hadīts yang menunjukan tentang diangkatnya amal perbuatan senantiasa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan sedang berpuasa.

Artinya, ketika amal diangkat beliau ingin diri beliau dalam keadaan sedang berpuasa.

Ini menunjukan bahwa kita dianjurkan pada hari-hari ini, ketika amal-amal perbuatan diangkat maka kita sedang dalam keadaan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Yang jelas, ini adalah poin yang pertama dari keutamaan bulan Sya’bān yaitu, bulan yang diangkat amal satu tahun, yaitu terjadi pada bulan Sya’bān.

Maka perbanyaklah berpuasa pada bulan Sya’bān ini.

2. Hadīts kedua

Yang menunjukan keutamaan bulan Sya’bān adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah dan hadītsnya di hasankan oleh Imām Albāniy rahimahullāh Ta’āla.

Dari Abū Mūsā Al Ashary radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu meriwayatkan, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allāh benar-benar melihat pada malam pertengahan bulan Sya’bān atau disebut pada malam Nisfu’ Sya’bān, lalu Allāh akan mengampuni seluruh makhluknya (kecuali) dua orang yang tidak diampuni oleh Allāh di malam Nisfu’ Sya’bān yaitu musyrik dan orang musyāhin.”

(Hadīts Riwayat Ibnu Mājah nomor 1390)

⇒Orang musyrik adalah seorang yang melakukan kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒Orang musyāhin, musyāhin diambil dari kata syahna, syahna artinya pertengkaran /perselisihan/perkelahian antara seseorang dengan yang lain.

Dua orang ini saja yang tidak mendapatkan ampunan dari Allāh pada malam pertengahan bulan Sya’bān.

Pelajaran dari hadīts ini yang bisa kita ambil dari keutamaan bulan Sya’bān adalah malam
Nisfu’ Sya’bān, yaitu malam pengampunan dari Allāh untuk seluruh makhluk-Nya kecuali seorang musyrik dan seorang musyāhin.

3. Hadīts ketiga

Hadīts yang menunjukan tentang keutamaan bulan Sya’bān berikutnya, yaitu hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Baihaqi dari Abū Tsa’labah Al Husain radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu dan hadīts ini dihasankan oleh Imām Albāniy rahimahullāh Ta’āla.

Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إذا كان ليلة النصف من شعبان اطلع الله إلى خلقه، فيغفر للمؤمنين، ويملي للكافرين، ويدع أهل الحقد بحقدهم حتى يدعوه

“Jika pada malam pertengahan bulan Sya’bān, Allāh menilik pada makhluk-makhluk-Nya (seluruhnya), lalu Allāh akan mengampuni orang-orang yang berimān dan membiarkan orang-orang kāfir dan meninggalkan orang-orang yang hasad dengan sifat hasadnya sampai mereka meninggalkan sifat hasad tersebut.”

(Hadīts Riwayat At Thabrāni dalam Shahīhul Jami’ nomor 771)

Berdasarkan hadīts tersebut kita ambil pelajaran, bahwa keutamaan bulan Sya’bān adalah malam pertengahan bulan Sya’bān, pengampunan dari Allāh untuk orang berimān kecuali,

⑴ Orang kāfir
⑵ Orang yang hasad (orang yang iri dan dengki di dalam dirinya)

Inilah tiga hadīts shahīh yang berkenaan dengan bulan Sya’bān. Mudah-mudahan bermanfaat, apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله  رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

 

Download Audio: audio

Sumber : youtube.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s