Membaca Peta Koalisi Pilkada Jawa Barat

Ditulis oleh Muhammad Yorga Permana,

Deklarasi Partai Nasdem untuk mendukung Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jawa Barat pada pertengahan bulan lalu membuat perbincangan seputar Pilkada Provinsi Jawa Barat semakin panas. Betapa tidak, Pilgub Jawa Barat 2018 banyak dinilai oleh para pengamat sebagai ‘kunci’ untuk Pemilu Presiden tahun 2019. Selain karena jumlah penduduk Jawa Barat yang merupakan terbesar di Indonesia (hampir 20 persen), jarak geografis Jawa Barat yang dekat dengan ibukota membuat Pilkada provinsi ini sarat dengan kepentingan isu-isu nasional sehingga pertarungannya melibatkan elit partai di level pusat.

Selain Ridwan Kamil, nama Deddy Mizwar, Netty Heryawan, Desi Ratnasari, dan Dedi Mulyadi menjadi nama yang santer dibicarakan dalam kontestasi calon gubernur Jabar yang pemilihannya akan dilaksanakan pada bulan Juni tahun depan tersebut. Siapa pun yang ingin memenangkan Pilgub nantinya perlu memperhitungkan hasil Pemilu 2014 maupun hasil Pilkada Kabupaten/Kota yang telah dilangsungkan di Jawa Barat pada periode ini. Hasil pemilu tersebut dapat dijadikan masukan bagi partai maupun kandidat sebagai strategi untuk membentuk koalisi maupun merebut dukungan para pemilih.

Setidaknya ada dua fakta yang perlu dijadikan catatan dari Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif 2014 lalu.

Pertama, PDIP (20 kursi) dan Golkar (17 kursi) merupakan pemenang dalam perebutan 100 kursi di parlemen Jawa Barat. Artinya, kedua partai tersebut berpeluang besar menjadi pemimpin koalisi Pilgub 2018.

Kedua, sekalipun PDIP keluar sebagai pemenang Pemilu Legislatif, justru Prabowo-Hatta yang diusung Gerindra dan koalisinya meraih suara sangat tinggi di Jawa Barat, mencapai 59.78%. Selain itu, kekuatan PKS (12 kursi) di Jawa Barat pun tidak bisa diremehkan. Hal ini dibuktikan oleh kemenangan Ahmad Heryawan dalam dua Pilgub berturut-turut. Artinya, baik Gerindra maupun PKS sama-sama bisa menjadi poros koalisi yang bisa menandingi kekuatan PDIP dan Golkar. Apalagi keduanya menjadi partai yang cukup ‘mesra’ sebagai anggota KMP yang tersisa dalam oposisi pemerintah pusat.

Golkar Pemenang Pilkada Kota/Kabupaten di Jawa Barat

Dari 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat, sebanyak 11 daerah telah melangsungkan Pilkada serentak pasca-Pileg tahun 2014. Sebanyak 8 daerah mengikuti Pilkada serentak pada bulan Desember 2015 sementara 3 daerah melangsungkannya pada bulan Februari 2017 lalu. Kesebelas daerah tersebut merepresentasikan 44,7 persen dari keseluruhan penduduk Jabar. Oleh karena itu, hasil Pilkada-pilkada tersebut menjadi penting untuk diperhatikan bagi siapapun yang ingin menang di Pilgub Jabar 2018 mendatang.

Dengan mengabaikan Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun 2015 yang hanya memiliki satu pasang calon, dapat dikatakan bahwa Partai Golkar merupakan pemenang di Pilkada Kota/Kabupaten Jawa Barat dengan memenangkan 7 dari 10 Pilkada, antara lain di Kab. Bandung, Cianjur, Indramayu, Pangandaran, Kab. Sukabumi, Kota Tasikmalaya, dan Kab. Bekasi. Pemenang berikutnya yaitu PKS, Demokrat, PKB, dan PPP yang sama-sama memenangkan 5 Pilkada, kemudian disusul oleh Gerindra (4 kali Pilkada) dan PAN (3 kali Pilkada). Sementara Nasdem, Hanura, dan PDIP harus puas dengan hanya memenangkan 2 kali Pilkada.

Dari keseluruhan Pilkada yang diikuti, PDIP sebagai pemenang pemilu 2014 hanya berhasil memenangkan kursi kepala daerah di Kabupaten Pangandaran dan Kota Cimahi. Itu pun dengan hanya menempatkan Jeje Wiradinata sebagai Bupati Pangandaran yang merupakan kader asli PDIP. Sebagai tambahan, jika Pilkada satu pasang calon di Kabupaten Tasikmalaya 2015 dihitung juga sebagai sebuah kompetisi, PDIP juga berhasil menempatkan Ade Sugiarto sebagai wakil Bupatinya sebagai kader asli partai.

Sebaliknya, dari tujuh Pilkada yang dimenangkan, Golkar berhasil menempatkan enam orang kadernya sebagai kandidat, bahkan di Pilkada Kabupaten Bekasi Bupati maupun Wakil Bupatinya sama-sama berasal dari Golkar. Kemudian PKS berhasil menempatkan 2 orang kadernya sebagai pemenang. Sisanya, baik Demokrat, PPP, PKB, dan Gerindra masing-masing hanya menempatkan 1 orang kader sebagai pemenang di Pilkada 11 daerah tersebut. Kandidat non-partisan masih mendominasi Pilkada di Jawa Barat, dimana dari 8 orang pemenang yang tidak berasal dari partai manapun tersebut, 2 orang adalah petahana, 4 orang birokrat, 1 orang pengusaha, dan 1 orang mantan anggota aktif TNI.

Koalisi Efektif PKS-Gerindra-Demokrat

Dari kesepuluh Pilkada Kota/Kabupaten di Jawa Barat tersebut, bagaimana peta koalisinya? Koalisi mana yang paling sering terjadi dan mana yang paling efektif?

Dengan melakukan analisis jaringan, ditemukan bahwa hampir seluruh partai di Jawa Barat pernah melakukan koalisi satu sama lain minimal satu kali dalam Pilkada Kota/Kabupaten sepanjang tahun 2015-2017. Koalisi yang tidak pernah terjadi hanya koalisi antara Demokrat-Nasdem dan Demokrat-Hanura. Ini menandakan bahwa koalisi yang terjadi di daerah sangatlah dinamis dan taktis, tidak lagi tergantung kepada peta koalisi di pusat maupun kesamaan ideologi antara satu partai dengan yang lainnya.

Namun, jika ditelisik lebih dalam, terdapat dua temuan yang menarik dalam peta jaringan koalisi tersebut. Pertama, jika jumlah koalisi antar partai dibatasi menjadi minimal melakukan koalisi dalam 3 atau 4 kali Pilkada, didapatkan dua klaster koalisi besar; yaitu koalisi Gerindra-PKS-Demokrat-Golkar dan koalisi PDIP-PPP-PAN-Hanura-Nasdem-PKB. Hal ini menunjukkan bahwa kutub KMP dan KIH di pusat yangvterbentuk tahun 2014 masih terasa bekasnya di Jawa Barat.

Kedua, dengan parameter yang sama, didapatkan bahwa partai Golkar dan Nasdem merupakan partai dengan derajat sentralitas kedekatan dan keantaraan terbesar. Artinya, kedua partai ini cenderung lebih mudah melakukan koalisi dengan partai manapun.

Gambar 1: Peta hubungan partai dalam Pilkada Kota/Kabupaten Jawa Barat 2015 dan 1-7 yang pernah melakukan koalisi minimal dalam 4 kali Pilkada

Jumlah koalisi yang paling sering terjadi dalam Pilkada Kota/Kabupaten Jawa Barat adalah koalisi segitiga antara Gerindra, PKS, dan Demokrat dengan jumlah koalisi masing-masing sebanyak 6 kali. Dari koalisi yang mereka masing-masing bentuk, PKS-Demokrat menang sebanyak 4 kali, Gerindra-PKS sebanyak 3 kali, dan Gerindra-Demokrat sebanyak 3 kali. Uniknya, jika ketiga partai tersebut berkoalisi sekaligus, pasangan yang mereka dukung selalu menang, yaitu di Kabupaten Indramayu (Anna-Supendi) dan Kota Depok (Idris-Pradi). Ini menunjukkan bahwa koalisi ketiga partai tersebut cukup efektif.

Sementara itu, dari 7 kemenangan Golkar di Pilkada Kota/Kabupaten di Jawa Barat, Golkar cukup efektif berkoalisi dengan PPP (menang 4 dari 5 kali koalisi) dan Demokrat (menang 3 dari 3 kali koalisi).

Koalisi manakah yang paling jarang terjadi? Selain koalisi Demokrat-Nasdem dan Demokrat-Hanura yang tidak pernah terjadi, koalisi antara PKS-PKB, Golkar-Hanura, dan PDIP-Gerindra merupakan koalisi yang paling jarang terjadi dimana masing-masing hanya sebanyak satu kali. Dari ketiga koalisi tersebut, hanya koalisi PDIP-Gerindra yang gagal memenangkan pasangannya, yaitu di Pilkada Cianjur.

Koalisi antara PDIP-Nasdem (menang 0 dari 4 kali koalisi) dan Gerindra-Nasdem (menang 0 dari 3 kali koalisi) merupakan koalisi yang paling tidak efektif dalam memenangkan Pilkada Kota/Kabupaten di Jawa Barat.

Penutup

Sebagai penutup, ada tiga catatan yang dapat diambil untuk Pilgub Jawa Barat tahun depan.

Pertama, PDIP, Golkar, PKS-Gerindra, dan Demokrat berpotensi menjadi kekuatan terbesar dalam kontestasi tersebut. Sangat mungkin terbentuk banyak pasangan calon hingga 3 sampai 4 pasangan kandidat yang masing-masing merepresentasikan kekuatan partai-partai tersebut.

Kedua, calon non-partisan masih menjadi mayoritas dalam Pilkada Kota/Kabupaten di Jawa Barat. Artinya, sosok Deddy Mizwar maupun Ridwan Kamil memiliki peluang besar untuk dicalonkan dan menang dalam Pilgub tahun depan. Penting bagi keduanya untuk mempertimbangkan partai mana yang akan menjadi kendaraan mereka dengan berkaca kepada hasil Pilkada Kota/Kabupaten 2015-2017 maupun Pemilu 2014 lalu yang telah disampaikan di atas.

Ketiga, penting bagi para calon, partai koalisi, maupun kita para pemilih untuk bersama-sama mewujudkan demokrasi yang berkualitas dalam Pilgub Jawa Barat 2018 mendatang. Artinya, figur kandidat maupun bentuk koalisi pendukung bukanlah segala-galanya dalam pesta demokrasi tahun depan. Visi-misi dan program yang diusung oleh para kandidat harus tetap menjadi menu utama dalam mewujudkan Pilkada sebagai festival ide dan gagasan bagi seluruh warga Jawa Barat.

(Penulis adalah Warga Jawa Barat dan baru saja menyelesaikan studi master di Innovation Sciences TU Eindhoven Belanda)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s