Seputar Bulan Sya’ban (2)

SEPUTAR BULAN SYA’BĀN BAGIAN 02 DARI 07

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Shahābat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh,

Poin Kedua yang berkenaan dengan bulan Sya’bān yaitu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’bān.

Amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’bān

(1) Yang pertama, berpuasa.

Dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, menyebutkan bahwa amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’bān adalah memperbanyak puasa sunnah dan memperbanyak di sini,

√ Tidak harus puasa Senin dan Kamis
√ Tidak harus puasa 13,14,15
√ Tidak harus puasa 3 hari di bulan Sya’bān (awal, akhir, pertengahan bulan)

Tidak!

Yang dimaksud memperbanyak puasa disini, adalah memperbanyak puasa sunnah secara mutlak. Tidak dibatasi dengan waktu, mudah-mudahan bisa kita amalkan.

Hadīts riwayat Imām Muslim:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – عَنْ صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ . وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ . وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً .

Dari Abū Salamah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu pernah bertanya kepada ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā tentang bagaimana puasa sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

‘Āisyah berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sering berpuasa sampai kami mengira beliau terus berpuasa (tidak pernah berbuka) dan sering Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbuka (tidak berpuasa) sampai kami mengira terus-terusan berbuka tidak berpuasa. Dan aku belum pernah melihat beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dalam keadaan berpuasa dari satu bulan sama sekali lebih banyak dari puasanya beliau di bulan Sya’bān. Beliau sering berpuasa di bulan Sya’bān seluruhnya dan beliau sering berpuasa Sya’bān kecuali sedikit.’

(Hadīts Riwayat Muslim nomor 1956 versi Syarh Muslim nomor 1156)

Pelajaran dari hadīts ini, bahwa amalan yang sangat ditekankan di bulan Sya’bān adalah berpuasa. Dan ini faedah hadīts ini yang menyatakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hampir berpuasa seluruhnya.

Kata-kata “seluruhnya” dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā disini maksudnya adalah tidak satu bulan penuh. Bukan!

Kenapa?

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam belum pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhān.”

(Hadīts Riwayat Muslim nomor 1956 versi Syarh Muslim nomor 1156)

Ini menunjukan bahwa tidak pernah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berpuasa di dalam satu bulan secara penuh, maksimal sempurna kecuali bulan Ramadhān.

Menunjukan pula bahwa bulan Sya’bān, Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam benar berpuasa sebanyak-banyaknya tapi tetap ada berbukanya.

Karena ada penjelasan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“(Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sering berpuasa Sya’bān secara seluruhnya kecuali sedikit saja tidak berpuasa.”

Kemudian hadīts yang lain, hadīts riwayat Bukhāri.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ حَدَّثَتْهُ قَالَتْ، لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ،

“Abū Salamah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bercerita bahwa ‘Āisyah bercerita kepada beliau bahwa Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam belum pernah berpuasa dalam sebulan lebih banyak dibandingakan bulan Sya’bān. Beliau berpuasa di bulan Sya’bān seluruhnya.”

(Hadīts Riwayat Bukhari nomor 1834 versi Syarh Muslim nomor 1970)

Maksudnya puasa sunnah, adapun puasa wajib Ramadhān tentunya.

Lihat! Beliau berpuasa di bulan Sya’bān seluruhnya.

Ingat! Kata-kata “seluruhnya” itu artinya “hampir semuanya”.

Jika kita sudah pahami itu, di sana ada amalan yang kedua yang sangat ditekankan, sebagaimana yang sudah kita baca (pada bagian lalu) hadītsnya ketika bulan Sya’bān.

(2) Jauhkan diri kita, keluarga kita, anak-anak istri kita, rumah kita dari seluruh hal yang berkaitan dengan kesyirikan.

Seperti (misalnya): Jimat-Jimat yang dianggap mendatangkan keramat.

Apa saja yang berkaitan dengan sesuatu yang merusak aqidah seorang muslim hendaknya dijauhkan, agar mendapatkan ampunan di malam Nisfu Sya’bān.

⑶ Menyelesaikan persengketaan, perselisihan antara sesama muslim yang lagi bertengkar (berselisih) maka minta dihalalkan (dimaafkan) meskipun dalam keadaan benar.

⑷ Hilangkan rasa hasad, dengki, iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Hasad, dengki, iri terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain maksudnya adalah bercita-cita (berangan-angan) agar nikmat atau kelebihan yang ada pada orang lain hilang.

Kalau sudab kita pahami amalan-amalan yang sangat dianjurkan, selanjutnya kita berdo’a dengan nama-nama Allāh yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia yang bisa kita amalkan.

Mudah-mudahan bermanfaat. Cukup kiranya apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
والسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Download Audio: audio

Sumber: youtube.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s