Tingkatan Ulama Dalam Madzhab Syafi’i

Syafi’iyyun memahami bahwa tidak setiap orang yang bermadzhab dengan madzhab Syafi’i lantas kemudian bisa langsung beristidlal atau mengambil simpulan hukum dengan metode yang dibangun Al-Imam Asy-Syafi’i. Bahkan tidak semua Ulama bisa dan berani melakukan hal tersebut.

Maka, ada Ulama yang sampai pada tingkat Mujtahid Madzhab, yakni mereka yang bisa beristidlal langsung dan bahkan memiliki pendapat yang berbeda dengan Imam. Contoh ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah Al-Imam Al-Muzani dan Al-Buwaithi.

Selanjutnya ada yang disebut dengan Ashabul Wujuh, yakni mereka yang taqlid kepada Imam, baik dalam dalil maupun ushul Imam. Namun, mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan hukum yang belum disebutkan Imam dengan menyimpulkan dan menqiyaskan (takhrij) dari pendapat Imam, sebagaimana para mujtahid menentukannya dengan dalil. Biasanya mereka mencukupkan diri dengan dalil Imam. (lihat Al-Majmu’, 1/73). Contohnya adalah Al-Imam Al-Qaffal.

Tingkatan selanjutnya adalah Mujtahid Fatwa atau Mufti Madzhab. Golongan ini termasuk para ulama yang tidak sampai pada derajat Ashabul Wujuh, namun menguasai madzhab Imam dan dalilnya serta melakukan tarjih terhadap pendapat-pendapat dalam madzhab. (lihat Al-Majmu’, 1/73). Dua ulama besar dalam madzhab Syafi’i dalam menentukan tarjih madzhab adalah Al-Imam An-Nawawi dan Al-Imam Ar-Rafi’i.

Tingkatan mufti dalam madzhab yang paling akhir adalah mereka yang menguasa madzhab baik untuk masalah yang sederhana maupun yang rumit, namun tidak memiliki kemampuan seperti mufti-mufti di atasnya. Maka fatwa mufti yang demikian bisa dijadikan pijakan penukilannya tentang madzhab dari pendapat imam dan cabang-cabangnya yang berasal dari para mujtahid madzhab. Mereka disebut Mufti Muqallid (lihat, Al Majmu’, 1/74). Di antara ulama yang sampai pada derajat ini adalah Ibnu Hajar Al-Haitami dan Ar-Ramli.

Adapun bila para ulama menemukan perbedaan pendapat di antara Mufti Madzhab, maka dikuatkan pendapat Al-Imam An-Nawawi daripada Ar-Rafi’i. Lalu, bila dalam fatwa An-Nawawi terdapat perselisihan, maka didahulukan kitab yang paling akhir ditulisnya. Ibnu Hajar berkata dalam Tuhfah:

” بَل الْغَالِبُ تَقْدِيمُ مَا هُوَ مُتَتَبَّعٌ فِيهِ كَالتَّحْقِيقِ فَالْمَجْمُوعِ فَالتَّنْقِيحِ ثُمَّ مَا هُوَ مُخْتَصَرٌ فِيهِ كَالرَّوْضَةِ فَالْمِنْهَاجِ وَنَحْوِ فَتَاوَاهُ فَشَرْحِ مُسْلِمٍ فَتَصْحِيحِ التَّنْبِيهِ وَنُكَتِهِ مِنْ أَوَائِلِ تَأْلِيفِهِ فَهِيَ مُؤَخَّرَةٌ عَمَّا ذُكِرَ وَهَذَا تَقْرِيبٌ ، وَإِلَّا فَالْوَاجِبُ فِي الْحَقِيقَةِ عِنْدَ تَعَارُضِ هَذِهِ الْكُتُبِ مُرَاجَعَةُ كَلَامِ مُعْتَمِدِي الْمُتَأَخِّرِينَ وَاتِّبَاعُ مَا رَجَّحُوهُ مِنْهَا ”

Jadi urutan dalam memilih fatwa Al-Imam An-Nawawi berdasarkan kitabnya adalah:

1. Kitab At-Tahqiq
2. Kitab Al-Majmu’
3. Kitab At-Tanqih
4. Kitab Raudhah
5. Kitab Minhaj
6. Syarh Muslim

Sedangkan kita yang belum sampai pada derajat Ulama maka diutamakan untuk mempelajari kitab yang ringkas namun padat, karena sebagai pemula, tentu target kita adalah bagaimana beramal, walaupun belum paham rincian dalilnya. Dan telah sepakat para Ulama bahwa sah ibadah seseorang walaupun belum memahami rincian dalilnya.

Adapun kitab-kitab untuk para pemula dalam madzhab Syafii di antaranya adalah: Safinatun Najah (Kitab Safinah), Sullamut Taufiq, Matan Taqrib beserta syarahnya seperti Fathul Qarib dan hasyiyahnya Baijuri, atau yang lebih mendetail seperti Kifayatul Akhyar. Juga ada Kitab Fathul Mu’in beserta hasyiyahnya I’anatuth Thalibin (Kitab I’anah).

Bertahap dalam melahap dan mengkaji kitab fiqih dalam madzhab Syafii akan membuat pemahaman kita integral, sehingga kita akan memahami bagaimana para Ulama dalam madzhab mengambil keputusan saat mengeluarkan fatwa-fatwanya.

Sedangkan sebagian kaum muslimin hari ini sepotong-sepotong dalam mempelajari dan memahami madzhab Syafi’i sehingga mereka terjebak pada salah satu dari dua pemahaman ekstrem: mereka yang ta’ashub atau fanatik buta sejadi-jadinya terhadap madzhab, sedangkan di sisi lain mereka yang selalu menyalah-nyalahkan fatwa madzhab tanpa memahami metode istidlal para Ulama di dalamnya.

Semoga kita berada pada sikap pertengahan, sesungguhnya sebaik-baik urusan adalah yang berada di tengah-tengah.

Pagi di Depok,
Laili Al-Fadhli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s