Seputar Bulan Sya’ban (4)

SEPUTAR BULAN SYA’BĀN BAGIAN 04 DARI 07

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين وصلى الله وسلم مبارك عبده و رسوله نبينا محمد و على آله وصحبه اجمعين أما بعد

Para shahābat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⑵ Pendapat yang kedua.

Diperbolehkan berpuasa secara mutlak di bulan Sya’bān.

Dan mereka menganggap hadīts tentang larangan berpuasa di pertengahan bulan Sya’bān hadītsnya lemah.

Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalāni rahimahullāh mengatakan:

قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ : يَجُوزُ الصَّوْمُ تَطَوُّعًا بَعْدَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَضَعَّفُوا الْحَدِيثَ الْوَارِدَ فِيهِ

“Berkata Jumhūr ulamā mengatakan bahwa boleh berpuasa sunnah secara mutlak di bulan Sya’bān dan mereka melemahkan hadīts tadi (Jika telah pertengahan bulan Sya’bān maka janganlah kalian berpuasa).”

Mereka mengatakan hadīts ini lemah,  sebagaimana yang dikatakan Imām Ibnu Qudammah bahwa hadīts itu tidak shahīh:

“Aku bertanya kepada Abdurahman bin Mahdi dan beliau tidak menshahīhkan hadīts tersebut.”

Allāhu A’lam, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang kedua bahwa mutlak boleh berpuasa di bulan Sya’bān, baik dari awal, pertengahan atau akhir bulan Sya’bān, kapan saja berpuasa di bulan Sya’bān diperbolehkan.

Karena berdasarkan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (diceritakan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā) bahwa beliau berpuasa di bulan Sya’bān kecuali sedikit saja.

⇒Lalu Ustadz, bagaimana hadīts tadi, bukannya derajatnya shahīh?

Betul, hadīts larangan tentang berpuasa dari pertengahan bulan Sya’bān adalah hadīts shahīh.

Bagaimana menjawabnya?

⇒Maka larangannya berupa kemakruhan saja.

Jadi larangan berpuasa dipertengahan bulan Sya’bān, pendapat yang kuat hadītsnya shahīh, akan tetapi larangannya hanya kemakruhan saja.

Mengapa?

Karena banyak sekali hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menunjukan bahwa Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam memperbanyak puasa di bulan Sya’bān.

(2) Permasalahan kedua yang berkaitan dengan puasa di bulan Sya’bān.

Bolehkah menggabungkan dua niat dalam puasa Sya’bān?

Misalnya, dia memiliki kebiasaan puasa hari Senin, dia niatkan puasa hari Senin plus niat puasa Sya’bān. Maka jawabannya?

Wallāhu a’lam, boleh.

Ini disebut dalam permasalahan fiqih At Tasyrīk Finniyyah (bersyarikat di dalam niat), jadi beberapa amal ibadah niatnya kita gabung kita kerjakan dalam satu pekerjaan.

Sama seperti orang masuk masjid setelah adzan shubuh, di hadapan dia ada shalāt tahiyyatul masjid, ada shalāt dua raka’at sebelum shubuh dan ada shalāt setelah wudhu’. Tiga niat ini dia gabung dia kerjakan dengan dua rakaat, maka ini boleh. Dan semoga pahalanya tiga.

Lihat perkataan para ulamā!

Syarat boleh menggabungkan niat, yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Kitāb beliau At Taqrīrul Qawā’id wa Tahrīrul Fawāid, beliau mengatakan:

إذا اجتمعت عبادتان من جنس واحد في وقت واحد ليست إحداهما مفعولة على جهة القضاء ولا على طريق التبعية للأخرى في الوقت تداخلت أفعالهما، واكتفى فيهما بفعل واحد

“Jika terkumpul dua ibadah dari satu jenis, di dalam satu waktu dan syaratnya: (1) yang satu bukan qadha, atau (2) bukan ibadah sebelumnya, maka boleh diniatkan dengan dua niat satu pekerjaan.”

Contohnya:

⑴ Bukan qadha

Bila dia punya hutang puasa di bulan Ramadhān tahun lalu, dia ingin berpuasa mengqadha hutang puasa tersebut di bulan Sya’bān.

Dia niatkan dua yaitu, qadha Ramadhān dan berpuasa bulan Sya’bān, maka ini tidak boleh.

Mengapa tidak boleh?

⇒Karena salah satunya niat qadha puasa.

⑵ Bukan mengikuti ibadah sebelumnya.

Contoh: Ada seorang wanita, di bulan Ramadhān dia mempunyai hutang puasa 6 hari (hāidh) kemudian di bulan Syawwāl dia ingin berpuasa bulan Syawwāl karena ada hadīts yang berbunyi:

“Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhān lalu dia mengikutkan puasanya dengan 6 hari berpuasa di bulan Syawwāl maka dia seperti berpuasa 1 tahun penuh.”

Dan orang ini ingin mengamalkan hadīts tetapi masih mempunyai hutang puasa 6 hari di bulan Ramadhān, maka dia tidak boleh menggabungkan niat mengqadha hutang puasa Ramadhānnya dengan puasa 6 hari di bulan Syawwāl.

Kenapa?

Karena 6 hari di bulan Syawwāl adalah mengikuti puasa Ramadhān.  Artinya 6 hari di bulan Syawwāl bisa dilaksanakan setelah selesai puasa Ramadhān.

Adapun contoh ibadah-ibadah yang tidak boleh digabung diantaranya:

⑴ Puasa 6 hari di bulan Syawwāl digabung dengan puasa qadha Ramadhān.
⑵ Shalāt zhuhur digabung niatnya dengan shalāt qabliyyah zhuhur.

Mengapa shalāt zhuhur tidak boleh digabung dengan shalāt qabliyyah zhuhur?

Karena, dia ibadah tersendiri.

√ Shalāt zhuhur ibadah tersendiri.
√ Shalāt qabliyyah zhuhur ibadah tersendiri.

Mudah-mudahan bermanfaat, apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله  رب العالمين
والسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Download Audio: audio

Sumber: youtube.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s